(Hantu-2) Pertemuan Jarak Dekat Dengan Dunia Lain

24 02 2005

Akhirnya kami punya kesempatan untuk melihat “penampakan” itu sendiri dan merekamnya dengan kamera. Hal itu bisa dilaksanakan setelah kami bertemu paranormal tersebut.

Tidak perlu jauh-jauh ke Jawa Timur ternyata karena sang paranormal sedang bertugas menangkap hantu di sebuah rumah milik artis terkenal di Jakarta. Setelah sedikit prosesi dalam sebuah ruangan di rumah mewah ini maka tiba-tiba ada suara melenguh kecil dan bayangan yang berkelabatan. Bayangan tersebut tiba-tiba menjadi sebuah tubuh perempuan tinggi besar (sekitat 190 cm) berbaju putih kotor dengan rambut panjang semrawut.

Suasana mendadak berubah dan udara suhunya menurun drastis. Sang Paranormal mempersilahkan cameraman kami mengambil gambar. Sayang sekali kamera kami, Sony DSR PD150P, tidak bagus untuk ruang miskin cahaya. Akal bulus dicoba yaitu menyalakan korek api di wajah sang hantu. Namun satu hal lucu terjadi ketika korek api dinyalakan di wajahnya, sang hantu maju selangkah dan sontak semua saksi terhenyak dan mundur. Satu lagi, sang paranormal ini memang suka bercanda. Ia berpura-pura mau melarikan diri! Tentu saja tim kami hampir saja ikut terbirit-birit. Ahlinya saja kabur bagaimana tidak tegang, kan?

Hantu tersebut sempat jalan-jalan dulu ke beberapa ruangan yang berhubungan dengan ruangan kami. Setelah itu sang paranormal memperlihatkan aksi penangkapan dengan menipunya untuk masuk ke sebuah kendi.

Kenapa mukanya selalu menunduk ke bawah? “Dia sedang mecari makanan yang berupa sesajen itu”, begitu jawab sang ahli hantu ini.

Pengalaman menelisik alam lain ini akan kami ulangi lagi malam ini dengan pewujudan harimau di rumah salah seorang warga Cinere, Jakarta. Kali ini kami membawa perlatan lengkap.

Pertanyaan lain, mahluk apakah ini yang sepertinya tersiksa dan tak berdaya begitu?





Dua Usia, Dua Piano, Dua Jazz

18 02 2005

Menyaksikan dua orang terkemuka di dunia jazz Indonesia bermain bersama merupakan pengalaman yang mengharu birukan saya. Jazz di Indonesia miskin repertoar dan panggung. Selain itu hanya sedikit saja pemusik yang dikenal luas secara Internasional. Dua diantara dari sedikit jazzer itu adalah Indra Lesmana dan Bubi Chen.

Konser yang digelar pada hari Rabu, 16 Februari 2005 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta dan bertajuk 2 Love Jazz – The Art of Duo ini bisa diibaratkan naik kereta api di atas rel berkelok-kelok, naik-turun dan jendela yang dibiarkan terbuka untuk menikmati pemandangan indah. Referensi musikal yang berbeda memperkaya arti sebuah komposisi jazz yang mereka mainkan bersama. Walaupun hanya karya-karya standar mereka mainkan tetap saja saya bisa membedakan mana sentuhan Indra dan mana milik Bubi ketika mereka mengeksplorasi komposisi tersebut.

Diluar itu ada yang cukup mengganggu ketika sound engineer tidak cepat tanggap terhadap ketidak seimbangan gain kedua piano. Seringkali saya terganggu oleh suara piano Indra, yang seharusnya sangat bagus, terdengar pecah di loudspeaker sehingga seringkali menenggelamkan dentingan piano Om Bubi.





(Hantu-1) Membuktikan Eksistensi Hantu

18 02 2005

Dua hari lalu saya mendapatkan sebuah sampel tv program yang diminta untuk diproduksi oleh kantor tempat saya bekerja. Sampel berupa VCD ini cukup membuat bulu kuduk berdiri karena berisikan dokumentasi hantu dengan visualisasi ekstrim. Tayangan ini sangat berbeda dengan apa yang sering saya lihat di program televisi sejenis. Hantu dalam vcd ini bisa berinteraksi dengan manusia! Penuh detail dan full-shoot.

Sebagai orang yang bertanggung jawab dengan urusan genting, konsep, di kantor, saya tidak akan begitu saja percaya. Langkah saya pertama saya adalah menguji gambar. Bersama tim, kami berdebat sampai pagi tentang kesahihan isi tayangan. Ada beberapa hal yang paradoks. Dokumentasi ini jelas dibuat menggunakan kamera rumahan dengan kualitas gambar rendah dan ekplorasi filmis yang sempit namun demikian mereka mampu membuat desain “kostum dan make-up” yang sungguh luar biasa. Untuk membuat kostum seperti itu dibutuhkan sumber daya artistik yang sangat berbakat. Hantu-hantu itu hadir dengan “kostum dan make-up” yang sulit dibuat! Untuk mengakhiri perdebatan kami mengontak sang cameraman yang mengambil gambar ini.

Esok harinya sang cameraman datang. Setelah berbasa-basi kami meminta dia bercerita tentang pengalamannya dan mengoreknya habis-habisan. Sungguh, dia bercerita dengan tidak dibuat-buat dan meyakinkan kami bahwa dia tidak berbohong. Selain itu, reputasi dia cukup baik sebagai pelaku industri televisi. Langkah berikutnya untuk mendapatkan keyakinan bahwa tayangan ini benar-benar nyata adalah: kami akan membuktikan sendiri!! Tunggu kisah saya berikutnya di suatu tempat di Jawa Timur dimana tinggal seorang yang berbakat untuk “memanusiakan hantu” akan membuktikan kemampuannya.