Jazz: Swinging adalah Aksentuasi

21 03 2005

Banyak teman bertanya apa yang membedakan musik yang mereka mainkan dengan Jazz? Barangkali salah satu jawaban terdekat adalah Swinging. Swinging bisa diartikan sebagai “dialek” atau “aksen” ketika kita berbahasa lisan. Semakin kental swinging semakin kentara musik adalah sebuah Jazz walaupun bukan satu-satunya parameter.

Jazz yang berakar dari Blues memiliki karakter khusus dalam struktur komposisinya. Orang-orang yang biasa bermain Jazz biasanya mulai mengenal musik itu dengan membiasakan diri masuk dalam format 2-5-1. 2-5-1 adalah jalur progresi chord. Misalnya sebuah komposisi dengan Key C, maka jalurnya adalah Dm-G-C. Lalu lintas chord itu terus dimainkan (biasanya dalam kerapatan satu bar dan dua bar untuk Key ) dengan tempo sedang untuk Swing dan cepat untuk Bebop. Jazz pun mengenal struktur intro – song – refrain – coda, hanya dengan pendekatan berbeda. Pendekatan itu semakin kompleks kalau sudah berbicara soal Free Jazz, sebuah genre yang berkembang di kawasan Eropa terutama Perancis.

Atmosfer musik Jazz dibangun pula dari skala notasi yang khas. Bila musik konvensional sering berjalan di atas skala murni (Do-re-mi-fa-sol-la-ti-do) maka Jazz seringkali memodifikasi hal itu. Anda akan terbiasa mendengar skala bernama Lidyan, Erolian, Mixolidyan, Blues, Pentatonic dll jika mulai ingin belajar Jazz. Setiap skala ini menghasil berbagai variasi khas Jazz dan seorang Jazzer yang baik harus bisa menempatkannya pada waktu yang tepat dalam sebuah komposisi.

Improvisasi adalah Spirit Jazz
Dengan konteks musikal yang serba liberal (kecuali standard pitch: 144 Hz untuk A) maka Jazz menyediakan banyak ruang untuk diekplorasi para musisinya. Dalam ruang inilah seorang Jazzer memperkenalkan dirinya serta emosinya.

Tentu saja improvisasi memerlukan keterampilan khusus seperti penjelajahan skala, membangun melodi yang artistik, dan presisi dalam mengikuti irama serta lalu-lintas komposisi.

Kenapa Notasi Pembentuk Chord di Jazz Lebih Kaya?
Jawabannya adalah memang disengaja untuk menampung banyak alternatif melodik. Anda akan mulai mengenal Cm9, FAug, G Half Dim, dll jika mulai bermain Jazz.





Karya Pertama di Book Cover Design

19 03 2005

Gambar sebelah kiri tulisan ini adalah karya pertama saya untuk cover buku. Buku yang baru saja terbit ini berjudul “Konflik dan Pemilu”, sebuah kompilasi hasil penelitian dan diskusi kelompok peneliti bernama Interseksi.

Saya bukan desainer visual yang baik. Saya selalu merasa diri saya adalah seorang generalis alias menclok sana-sini. Kelemahan tipikal orang seperti itu biasanya adalah kurangnya detail. Di sisi desain, sebenarnya saya cuma membayangkan isi buku ini saja. Persoalannya, isi buku ini terlambat datang dibanding pengerjaan cover-nya.

Wajah buku ini sebenarnya pula hanya dikerjakan dalan dua jam saja di Bandung (saya tidak mengerjakan apapun di kantor selain peruntukannya). Software Photoshop cukup membantu terutama di Brush-nya dan teknik montage foto. Tampak terburu-buru memang, soalnya beberapa jam lagi saya harus kembali ke Jakarta.

Seringkali saya bingung mengorientasikan diri. Begitu lama ngulik musik dan multimedia (video, web dan new media lainnya), mengajar, lalu sering terlibat dengan hal-hal muskyil, tidak satupun yang dijadikan pilihan khusus. Tapi, memang harus begitu, kali?





GAPURA Melempar Saya ke Belakang

19 03 2005

Setelah lelah bermain Playstation saya switch saluran televisi ke program dokumenter berjudul Gapura, RCTI. Acara ini kebetulan sedang menceritakan obyek wisata di Bandung bagian selatan.

Ya ampun, ingatan ini langsung terlempar ke masa ketika saya sering outing ke daerah itu. Tempat itu favorit saya apalagi jika sedang banyak masalah.

Jika Bandung bisa ditempuh dalam 30 menit saja dipastikan saya sudah nongkrong di Gunung Patuha itu. Ingin rasanya berhela-hela sesuka hati dan kapan saja di sana. Seringkali hidup di era dimana waktu menjadi mahal ini membuat stres.

Daerah ini pula mengingatkan saya kepada aktifitas lama di Bandung. Waktu itu saya bekerja untuk sebuah proyek dokumentasi pariwisata yang mana saya bertugas sebagai CD-ROM Authoring Developer Head. Selama sejarah saya menghadapi komputer dan bekerja di lapangan, saat itulah yang paling menyenangkan.





Seorang Sahabat Australia di Aceh

18 03 2005

Sahabat saya, seorang perempuan muda Australia, baru saja kembali ke Jakarta setelah tepat dua bulan tinggal di Banda Aceh, NAD setelah ikut membantu saudara-saudara kita yang menjadi korban bencana Tsunami, 26 Desember tahun lalu. Ketika bertemu di tempat kosnya, kebetulan dekat dengan kos saya, dia tetap memancarkan semangatnya yang selalu optimis akan segala sesuatu. Tidak pernah terdengar keluhan apapun ketika kita berbincang-bincang soal dirinya selama di Aceh. Menurutnya hari Senin, minggu depan, dia segera terbang lagi ke Aceh untuk melakukan pekerjaan yang sama.

Beberapa hari sebelum bencana itu kami sudah membuat semacam farewell party karena dia akan pulang ke Sidney, Australia dalam jangka waktu lama. Dia rindu kepada orang tuanya. Namun, tak lama kemudian bencana itu terjadi. Lalu, sang sahabat itu sudah muncul lagi di hadapan saya dengan segala kesiapan untuk segera berangkat ke Aceh. Saya kira hanya kecintaannya saja pada manusia dan Indonesia yang menyebabkan ia memperpendek kunjungan ke keluarganya.

Terima kasih teman. Kamu telah menunjukkan makna kasih-sayang tanpa batas ras, ideologi dan negara. Take care… sebab banyak tempat yang belum kita kunjungi untuk joget-joget hahahahaha….