Apologize to someone who missed this composition. I deleted it with no intention, just an accident. So, here it goes again “Finn de Bailar”, means “Last Dance”, a piano composition i wrote months ago. But, obviously this work is far from imperfection not only in concept neither aesthetic course. I do welcome critics.
90% Ragu, 90% Ditonton, 90% Amburasut
15 10 2007Menonton film horor Indonesia memang penuh debar. Debar saat menebak filmnya akan bagus atau tidak. Namun, selalu saja ditonton, hehehe. Dan, tulisan ini dibuat tepat 2 jam sesudah saya ‘ditakut-takuti’ Pocong 3.
Pocong memang memiliki tempat tersendiri dalam sisi pengecut masyarakat kita, termasuk saya. Pocong memiliki kedekatan spiritual dengan dunia kematian, khususnya kaum Muslim. Bergentayangan dengan pakaian tersebut jelas mengingatkan kita pada seseorang yang baru saja dikubur dengan tradisi Islam. Walaupun dalam konteks sejarah, stigma Pocong dibangun oleh pembantaian para penganut sekte yang dianggap sesat oleh penguuasa Demak pada abad 14. Mayat mereka dijajarkan di pantai Parang Kusumo, Jogjakarta, dengan pakaian seperti itu, tentu saja, dengan berbagai tebaran ancaman pada pengikut yang masih belum tertangkap serta simpatisan. Ancaman ini mungkin terus dihembuskan dalam mitos dan relung-relung budaya Jawa.
Kembali ke film Pocong 3. Saya berharap sequel ini akan memahami rasio sebuah film, meyakinkan penonton. Film selalu memiliki struktur dan ‘logikalisasi’ yang perlu diadopsi penonton. Sayang, Pocong 3 tidak memberikan itu. Dramatisasi pergi ke antah-berantah. Setiap ‘realita’ selalu disodorkan tidak secara utuh. Penonton dipaksa menghubungkan dan menebak patahan-patahan cerita yang sebenarnya saya yakin penulis skenario maupun sutradara tak berniat untuk menyiksa penonton dengaan cara seperti itu.
Intro sudah cukup meyakinkan saya bahwa film akan dibawa ke ritme yang stabil, namun saya salah. Film malah menebar banyak titik yang sulit dihubungkan dan memecah perhatian untuk hal yang tidak perlu. Siapa si Merah? Kenapa membahas ilmu kebal? Tujuan mengisi cerita dengan perselingkulan? Kenapa Garry Iskak harus selalu jadi bencong, apa fungsi Ringgo? Kenapa setelah berhadapan muka dengan Pocong sejarak 5 Cm masih mengatakan hal ghaib itu jangan dipercaya?
Satu hal lagi, saya ingin bertanya apakah film ini akan bercerita soal Pocong atau DJ? Karena tema DJ terlalu berlebihan diekspos.
Ending? Jangan tanya. Teu puguh!!
Comments : Leave a Comment »
Categories : Movie
Mac do Windows Many Times
9 10 2007
Yeah, finally i got one software named Parallel Desktop 3.0, a virtual machine to run Bill Gates’s proud, Windows, on Mac. Installation took really easy, it almost took only 15 minutes to finish and bang! This software also give me a lot of parameter to adjust everything regarding the computing resource needed. I run Windows XP SP2 on my Mac Book Pro, and, i think, it’s running smoothly. Parallel Desktop can also run Windows on full screen mode so we will feel like in trully Windows environment. We also do not lose any default commands of Windows. This software is not the only one, we can use BootCamp which is directly endorsed by Apple itself, but, you should have a large storage and bandwidth either. BootCamp almost takes 347 MB and will occupy your at least 10 GB of your storage after installation. But, BootCamp is a little bit different with Paralle Desktop because BootCamp will be installed in different partition of Mac and considered not much Virtual and the addition is BootCamp provides you all stuffs to run Windows with no hassle like drivers and so on.
Comments : Leave a Comment »
Categories : Uncategorized
Recent Comments