Aiihh, lama tidak bersua dengan sahabat lama satu ini. Eh tahu-tahu, sang sahabat tersebut ternyata sudah menjadi seorang ikon baru musik Indonesia. Bagaimana di setiap ulasan media tak ada satupun yang tidak memuji band-nya dia, bahkan Rolling Stones Indonesia!. Hidup Cholil, Akbar dan Adrian dengan Efek Rumah Kaca-nya. Sebenarnya saya sudah lama ramalkan bahwa mereka akan menjadi seperti ini, hehehehe.
Masih ingat sekitar 3 tahunan lalu, saya diajak Cholil untuk ikut mereka latihan di studio musik yang terletak di bilangan Kebayoran Lama saat mereka masih berkutat dengan demo yang sedang digarapnya. Saat itu saya coba-coba memainkan keyboard yang nganggur, dan coba-coba pede ikutin musik mereka. Ahh… ngga nyambung deh… ya sudah dilanjut deh Lil, aku belum bisa tuned dan cuma akan ‘mengotori’ musik kalian saja.
Sambil menulis blog ini, saya menyimak musik kalian. Ahh.. gloomy… crisp sekaligus menggugah…… Ups, saya menulis 3 buah kata yang bisa jadi bertentangan satu sama lain. Tapi itulah Efek Rumah Kaca, mampu memasak 3 gagasan untuk menyajikan kepada kita sebuah sajian spiritual berbeda. Dengan kelirihan (bukan sendu) psychedelic telah lahir sebuah wujud baru musik Indonesia yang cerdas.
Mungkin Saya dan Cholil adalah beberapa diantara kerumunan penikmat Musikalisasi Puisi Sapardi Djoko Darmono. Saya sedikit yakin presentasi musikal dari mahakarya puisi ini sedikit banyak mempengaruhi musikalitas Efek Rumah Kaca. Kita sering membahas soal maha karya ini di kosan saya di bilangan Hidup Baru IV Cipete Jaksel mulai dari bagaimana tetangga Cholil, sang komposer dari Last Few Minutes, sampai bagaimana vokalis yang mendendangkan puisi ini bertranfromasi menjadi kelompok baru, Duo Ibu (?) yang terakhir tampil di Imparsial (LSM di mana Munir pernah berkantor) dan Wapres (Warung Apresiasi), Blok M. Harap dimaklum Sapardi Djoko Darmono lekat dengan “romatisme’ anak-anak LSM, seperti Cholil.
Walaupun saya sudah mendengar beberapa diantaranya sebelum dirilis. Anyway, tidak cuma musik yang terlintas di kepalaku..tapi i miss the old days, dude! Rindu jalan-jalan dengan Nggirma, Cholil, Diran, Ao, Mas Bagio, Lyndal. Rindu kenakalan ‘romantis’ kita, rindu kebengalan ’sedikit sok intelektual’ kita.
Besok, Saya akan menyaksikan konser mereka di Tobucil, sebuah toko buku yang memang kecil tapi memiliki daya dorong literasi yang kuat di kalangan muda Bandung (kelas menengah bukan ya?), untuk pertama kali.
Belanja Sampai Mati, Lagu Cinta Melulu, Di Udara, Sebelah Mata …. beruntunglah kalian tumbuh di dunia yang sensitif. Pesan buat Adrian, keep strong Dude. Lagumu ‘Sebelah Mata’ cukup meremukan hati! Dan jangan sampai saya ketemu kalian malah bersendu-sendu!
Recent Comments