Come On Friends, Don’t Make a Stupid TV Movie!

29 01 2008

An hour ago, when i was going to pee and passing the tv room in my house, my eyes could not resist to off of tv scene. A tv movie ran with a strange presentation, telling a part of Mahabharata epic with modern theme. Arjuna in jeans, cars, guns and all modern age stuffs. How could it be?

I continued with some positive expectations, hopefully they could interpret the great epic with an excellent way. Unfortunatly, they failed! They only change the wardrobe and put all bad actors/actresses in one dumb movie with very-very poor special effects! Damn! Don’t expect a new interpretation even a good acting!

At the end of story, i curious with the credit title, and i amaze some my friends involved in the production ranging from co-director, special fx designer to house production itself!

I regret for sacrificing my pee only for this kick-ass tv movie. C’mon friends! Make me happy.





90% Ragu, 90% Ditonton, 90% Amburasut

15 10 2007

Menonton film horor Indonesia memang penuh debar. Debar saat menebak filmnya akan bagus atau tidak. Namun, selalu saja ditonton, hehehe. Dan, tulisan ini dibuat tepat 2 jam sesudah saya ‘ditakut-takuti’ Pocong 3.

Pocong memang memiliki tempat tersendiri dalam sisi pengecut masyarakat kita, termasuk saya. Pocong memiliki kedekatan spiritual dengan dunia kematian, khususnya kaum Muslim. Bergentayangan dengan pakaian tersebut jelas mengingatkan kita pada seseorang yang baru saja dikubur dengan tradisi Islam. Walaupun dalam konteks sejarah, stigma Pocong dibangun oleh pembantaian para penganut sekte yang dianggap sesat oleh penguuasa Demak pada abad 14.  Mayat mereka dijajarkan di pantai Parang Kusumo, Jogjakarta, dengan pakaian seperti itu, tentu saja, dengan berbagai tebaran ancaman pada pengikut yang masih belum tertangkap serta simpatisan. Ancaman ini mungkin terus dihembuskan dalam mitos dan relung-relung budaya Jawa.

Kembali ke film Pocong 3. Saya berharap sequel ini akan memahami rasio sebuah film, meyakinkan penonton. Film selalu memiliki struktur dan ‘logikalisasi’ yang perlu diadopsi penonton. Sayang, Pocong 3 tidak memberikan itu. Dramatisasi pergi ke antah-berantah. Setiap ‘realita’ selalu disodorkan tidak secara utuh. Penonton dipaksa menghubungkan dan menebak patahan-patahan cerita yang sebenarnya saya yakin penulis skenario maupun sutradara tak berniat untuk menyiksa penonton dengaan cara seperti itu.

Intro sudah cukup meyakinkan saya bahwa film akan dibawa ke ritme yang stabil, namun saya salah. Film malah menebar banyak titik yang sulit dihubungkan dan memecah perhatian untuk hal yang tidak perlu. Siapa si Merah? Kenapa membahas ilmu kebal? Tujuan mengisi cerita dengan perselingkulan? Kenapa Garry Iskak harus selalu jadi bencong, apa fungsi Ringgo? Kenapa setelah berhadapan muka dengan Pocong sejarak 5 Cm masih mengatakan hal ghaib itu jangan dipercaya?

Satu hal lagi, saya ingin bertanya apakah film ini akan bercerita soal Pocong atau DJ? Karena tema DJ terlalu berlebihan diekspos.

Ending? Jangan tanya. Teu puguh!!