Menonton film horor Indonesia memang penuh debar. Debar saat menebak filmnya akan bagus atau tidak. Namun, selalu saja ditonton, hehehe. Dan, tulisan ini dibuat tepat 2 jam sesudah saya ‘ditakut-takuti’ Pocong 3.
Pocong memang memiliki tempat tersendiri dalam sisi pengecut masyarakat kita, termasuk saya. Pocong memiliki kedekatan spiritual dengan dunia kematian, khususnya kaum Muslim. Bergentayangan dengan pakaian tersebut jelas mengingatkan kita pada seseorang yang baru saja dikubur dengan tradisi Islam. Walaupun dalam konteks sejarah, stigma Pocong dibangun oleh pembantaian para penganut sekte yang dianggap sesat oleh penguuasa Demak pada abad 14. Mayat mereka dijajarkan di pantai Parang Kusumo, Jogjakarta, dengan pakaian seperti itu, tentu saja, dengan berbagai tebaran ancaman pada pengikut yang masih belum tertangkap serta simpatisan. Ancaman ini mungkin terus dihembuskan dalam mitos dan relung-relung budaya Jawa.
Kembali ke film Pocong 3. Saya berharap sequel ini akan memahami rasio sebuah film, meyakinkan penonton. Film selalu memiliki struktur dan ‘logikalisasi’ yang perlu diadopsi penonton. Sayang, Pocong 3 tidak memberikan itu. Dramatisasi pergi ke antah-berantah. Setiap ‘realita’ selalu disodorkan tidak secara utuh. Penonton dipaksa menghubungkan dan menebak patahan-patahan cerita yang sebenarnya saya yakin penulis skenario maupun sutradara tak berniat untuk menyiksa penonton dengaan cara seperti itu.
Intro sudah cukup meyakinkan saya bahwa film akan dibawa ke ritme yang stabil, namun saya salah. Film malah menebar banyak titik yang sulit dihubungkan dan memecah perhatian untuk hal yang tidak perlu. Siapa si Merah? Kenapa membahas ilmu kebal? Tujuan mengisi cerita dengan perselingkulan? Kenapa Garry Iskak harus selalu jadi bencong, apa fungsi Ringgo? Kenapa setelah berhadapan muka dengan Pocong sejarak 5 Cm masih mengatakan hal ghaib itu jangan dipercaya?
Satu hal lagi, saya ingin bertanya apakah film ini akan bercerita soal Pocong atau DJ? Karena tema DJ terlalu berlebihan diekspos.
Ending? Jangan tanya. Teu puguh!!
Recent Comments